Tempo hari b2 mas, kami dinner (cailah !). Pilihannya jatuh ke Steak Obonk (yang kata mas, blom ada yang nandingi enaknya…ya steaknya ya kuahnya (he…he…he….gravy dia bilang kuah).
Fave Mas n Ibutnya ayam crispy n tenderloin, tapi untuk kali ini kami b2 memilih ayam crispy dan lemon tea. Seperti biasa, sembari menunggu si steak siap, kami pesan french fries sambil membayangkan ayam berselimut tepung mengepul di atas hot plate ditemani potongan kentang dan mix vegetables yang terdiri dari sisiran jagung, kacang polong, buncis dan kembang kol….duh….

Ga begitu lama, datanglah mas pramusaji membawa pesanan kami. Aroma ayam dominan menguasai hidung kami, yang kemudian turun ke perut yang sontak ‘ambil suara’ minta diisi.
Mas tak sabar mengambil garpu n pisaunya n dengan cekatan mengiris ayam di tengah guyuran gravy yang kental. Tampilannya kali ini agak lain, karena di mix vegetablesnya minus kembang kol, tapi tidak pengaruh bagi kami yang berlomba menghabiskan hidangan yang sudah ada di depan mata. Dengan harga yang dibandrol Rp. 8.500 per porsi single n Rp. 12.500 untuk double porsi ditambah segelas lemon tea, tidaklah menguras kantong untuk melewatkan weekend bersama Mas.

Liburan lebaran kemarin, Alhamdulillah dapat libur (cuti bersama) 10 hari. Jadi bisa puas2in ngumpul orang rumah n jalan bareng Mas. Hari pertama lebaran, seperti biasa setelah sholat ied n sungkem Uti, kami bareng2 nyekar ke makam Bapak.
Alhamdulillah, rada keliatan ijo setelah Ramadhan kemarin ditanami rumput n tiap hari susah payah bawa jerigen air 20 liter u/ mempercantik makam Akungnya Mas. Desain makamnya yang memang lain dari ‘tetangga’ di kiri kanannya, membuat gampang di kenali diantara ratusan nisan di sana.
Bapak….tak terasa sudah hampir 6 taun aku, Mint n si Oom jadi anak yatim (huhuhuhuk….mewek deh…). Datang ke makam ini ibarat memutar kembali kenangan akan Bapak yang tidak akan pernah aku lupakan. Sederhana, bersahaja, dan berjuta kata pujian diantara kekurangan beliau.
Serasa baru kemarin aku ‘ditinggal’….meratapi sekaligus bersyukur menjalani hari2 sepi tanpa seorang ayah, teman, n sahabat buat jalan, ngobrol n curhat apapun.
Bapak….Insya Allah sudah tenang n (lebih) bahagia di sisi Allah. ‘Melihat’ dari jauh anak2nya….cucunya yang bandel2. ‘Mendamping’ kami semua dengan semua keteladannya..menjadikan kami semua mau bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikanNya…menjadikan kami semua bangga punya Bapak…
Btw…mau liat gaya Mas n Icha, yang rada nyleneh di makam Akungnya ? Rutinitas berkunjung ke makam Bapak, seolah menjadi sesuatu yang menyenangkan tidak saja bagiku, Mint n Mama, tapi Mas n Icha menganggapnya sebagai ‘sowan’ nya cucu2 kesayangan ke tempat Akungnya, serasa nostalgia ketika mau diajak pesiar kala Akungnya masih sugeng.
ups….cerita liburannya disambung nanti ya. Mau Asyar dulu…..
kadang kata di atas m’hinggapi kita saat tanpa terasa kerjaan yang menumpuk blom juga kelar atau rasa jenuh datang sementara kerjaan harus kejar target. Tapi begitulah…..manusia pada hakekatnya diberi rasa capek agar bisa memanfaatkannya untuk beristirahat atau sekedar orang jawa bilang ‘ambegan’ , yang artinya mengambil nafas. Semuanya mesti disyukuri sebagai bentuk sayang Allah kepada kita…tak ubahnya rasa sakit yang kadang diberikanNya sebagai ‘nikmat’, karena disebaliknya selalu ada kebaikan yang menyertainya…